[Ulasan Buku] NKCTHI: Dari Awan di Masa Depan

Judul: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini

Penulis: Marchella FP

Penerbit: POP Publisher

ISBN: 978-602-424-821-5

Tahun terbit: 2018

Tebal halaman: 200 halaman

Harga buku: Rp. 125.000

NKCTHI – Di buku ini, kita bertemu dengan seorang perempuan yang juga merupakan sosok ibu. Perempuan itu bernama Awan. Nama yang dipilih karena katanya awan selalu punya cara untuk menjaga dan menghibur bumi serta isinya. Begitulah deskripsi yang ditulis di bagian awal buku ini.

Awan menulis surat untuk masa depan. Surat yang ditujukan untuk anaknya itu berisi pesan-pesan singkat tentang memori, gagal, tumbuh, patah, bangun, hilang, menunggu, bertahan, berubah, dan semua ketakutan manusia pada umumnya. Surat ini ditulisnya karena Awan takut lupa bagaimana rasanya muda.

Buku berisi pesan yang mencerminkan pengalaman pribadi seseorang ini dituangkan dalam bentuk buku ilustrasi. Dengan tampilan buku yang full color, pembaca lebih santai membuka lembar demi lembarnya. Buku ini tak mengharuskan kita membacanya secara urut, kita bisa membuka halaman secara acak dan memahami nasihatnya sebagai pengingat perjalanan hidup. Meski disebut nasihat, isi pesan dibuku ini tidak terkesan menggurui.

Selamat membaca! 😊

[Ulasan Buku] Muslimah yang Diperdebatkan

Judul: Muslimah yang Diperdebatkan

Penulis: Kalis Mardiasih

Penerbit: Buku Mojok

ISBN: 978-602-1318-93-5

Tahun terbit: 2019

Tebal halaman: 202 halaman

Harga buku: Rp. 78.000

Muslimah yang Diperdebatkan – Buku yang tersusun dari kumpulan esai ini umumnya berisi tentang kesetaraan dan keadilan. Sebagai seorang esais yang konsisten menulis tentang isu-isu perempuan, Kalis Mardiasih menuangkan berbagai keresahannya dalam 26 judul yang ditulis dengan santun dan santuy.

Di era serba digital saat ini, beragama dianggap cukup dengan hanya berselancar di internet. Dengan berselancar di Instagram, Facebook, atau YouTube, kita dengan mudah memilih guru agama sesuai selera. Mirisnya, tak sedikit yang dengan mendengar satu video ceramah, dirinya merasa paling alim dan ujug-ujug gemar menyeramahi orang lain.

Esai yang ditulis dan dilengkapi data serta pengalaman pribadi, membuat buku ini tidak membosankan. Buku yang bisa dijadikan teman duduk, membuka pikiran agar mau dan mampu menelisik dunia seorang muslimah dengan segala masalahnya di era modern, dan tentu sangat direkomendasikan untuk muslimah agar tak hanya bungkam dan tunduk pada tafsir teks agama yang ditafsirkan dengan begitu mengerikan dan menjunjung tinggi kebenaran tunggal.

Di buku ini juga, Kalis mengutarakan kebingungannya tentang pengelompokkan hal yang seharusnya tidak dikotak-kotakkan. Kini, tak asing jika kita mendengar istilah ‘hijab syar’i’, yang justru dengan itu otomatis ada juga hijab yang tidak syar’i. Masih seputar hijab, banyak tokoh-tokoh publik ataupun muslimah pada umumnya yang memutuskan untuk mengenakan hijab dan dengan mudahnya dijuluki sebagai ‘sosok hijrah’. Padahal, hijrah tentu bukan hanya dilihat dari penampilan luar yang berubah.

Di Indonesia, hijab atau kerudung yang membalut tubuh muslimah ini nampaknya bukan sekedar soal aturan yang mengikat fisik, ia juga dianggap sebagai konsekuensi terikat; mulai dari suara, gerak-gerik tubuh, juga aktifitas fisik yang dilakukan. Padahal, kerudung mestinya adalah simbol keindahan dan kasih sayang, yang memerdekakan pikiran, gerak tangan, dan suara.

Tak sekedar berbicara tentang muslimah, buku ini juga membahas mengenai topik: Para Penafsir Ayat Suci Sesuka Hati, Segala Hal yang Salah tentang Nikahsirri.com, Keadilan Gender, Islam di Mata Orang Asing, Peradaban Laki-laki, Gotong Royong Toleransi, dan Fenomena Hijrah Rasulullah saw.

Seperti yang dikatakan Kalis, “Buku ini hanya berupaya memberikan dukungan kepada suara perempuan yang seringkali gagal didengar dan dipahami karena hukum halal-haram selalu dijatuhkan terlebih dahulu dibanding aspirasi dan pengalaman perempuan.” Jangan ada satu perempuan pun yang kita biarkan berjuang sendirian 😊.

[Ulasan Buku] Awe – Inspiring Me

Judul: Awe – Inspiring Me

Penulis: Dewi Nur Aisyah

Penerbit: Ikon

ISBN: 978-602-74653-4-3

Tahun terbit: 2017

Tebal halaman: 231 halaman

Harga buku: Rp. 76.000

Awe Inspiring Me – Buku yang mengajak para muslimah agar senantiasa meng-upgrade diri dan mengasah potensi hingga menjadi muslimah yang extra ordinary. Buku yang menginspirasi ini ditulis oleh sosok yang inspiratif pula. Mbak Dewi Nur Aisyah, seorang ahli epidemiologi dan juga ibu muda dari 2 anak ini menuliskan kisah-kisah yang menginspirasi pembacanya.

Salah satu kutipan dalam bukunya tertulis “Hidupmu adalah pesan bagi dunia. Buatlah hidupmu menginspirasi. Dan ingat, kamu adalah penulis buku kehidupanmu di akhirat, pastikan buku itu berarti untuk dibaca”. Buku ini adalah wujud kisah perjalanan Sang Penulis. Di sana, tertulis beberapa kiat yang senantiasa ia lakukan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Terdapat enam bab yang dibahas tuntas oleh Penulis, dari mulai soal muslimah yang gak kuper, bagaimana menggapai cita dengan menulis rencana, pengalaman mengelola masa muda dengan maksimal, bagaimana sikap menghadapi kegagalan, langkah-langkah mendekat kepada Allah, dan tips bagaimana mengelola hati dengan sebaik-baiknya.

Bukan cuma itu, di dalamnya dilengkapi juga dengan contoh bagaimana menulis target dan rencana hidup. Dengan bonus poster life plan, pembaca turut diajak menulis rencana hidup dengan mengisi kolom-kolom yang telah disediakan.

Dengan pembawaan buku yang islami, Sang Penulis melengkapi pembahasan dalam buku dengan menyantumkan beberapa terjemah potongan hadis dan Quran yang menjadikan buku ini istimewa. Namun, pemaparannya gak melulu soal agama, kita juga diajak berkenalan dengan istilah-istilah sains di banyak bab.

Dengan begitu, buku ini perlu dijadikan panduan bagi muslimah yang sering merasa kehilangan arah atau justru masih bingung harus melangkah ke arah mana 😊.

[Ulasan Buku] Belajar Mencintai: Jatuh Cinta Saja Tak Cukup!

Judul: Belajar Mencintai

Penulis: Azhar Nurun Ala

Penerbit: Azharologia Books

Tahun terbit: 2019

Tebal halaman: 260 halaman

Harga buku: Rp. 69.000

Belajar Mencintai – Sebuah memoar yang menjelaskan tentang bagaimana dua orang yang saling jatuh cinta hingga akhirnya belajar mencintai. Kisah perjalanan pernikahan yang ditulis oleh Sang Penulis saat pernikahannya berusia lima tahun, yang konon adalah waktu pernikahan memasuki tahap yang penuh guncangan.

Buku yang terdiri dari sepuluh bab ini menceritakan tentang momen paling berkesan selama lima tahun berumah tangga. Terlebih, pembaca bisa mengambil pelajaran-pelajaran penting dari kejadian di dalamnya. Belajar mencintai adalah proses pendewasaan yang tidak ada habisnya. Sebab, jatuh cinta saja tidak cukup.

Dengan latar belakang penulis yang menikah di usianya yang tergolong (sangat) muda, di usianya yang ke 20 tahun ia menikah. Di memoar ini, Penulis menceritakan bagaimana ia meyakinkan orang tua dan calon mertuanya untuk mengambil keputusan menikah di usianya saat itu. Ia juga bercerita tentang transformasi dari orang yang jatuh cinta menjadi orang yang mencintai, kehidupan rumah tangga setelah diamanahi anak, kepergian orang tercinta, perjalanan merintis usaha, pertengkaran yang terjadi di rumah tangga dan bagaimana mereka menyelesaikannya.

Di bab akhir, istrinya, Vidia Nuarista Annisa Larasaty menceritakan bagaimana pengalamannya menjaga hati sebelum menikah, proses taaruf, dilamar oleh laki-laki yang lebih muda – yang kini menjadi suaminya, perasaan menanti Sang Buah Hati, juga perasaan suka duka menjadi seorang ibu rumah tangga dengan sudut pandangnya sebagai seorang istri.

Buku ini sangat cocok dijadikan teman bertumbuh, berproses, dan mendewasa. Juga sangat direkomendasikan untuk kamu yang sedang belajar mencintai, mempersiapkan diri, atau pun sedang membina rumah tangga 😊.

[Ulasan Buku] Jangan Dulu Patah

Judul buku: Jangan Dulu Patah

Penulis: Azhar Nurun Ala

Penerbit: Azharologia Books

Tahun terbit: 2019

Tebal halaman: 160 halaman

Harga buku: Rp. 59.000

Jangan Dulu Patah – Sebuah buku antologi prosa yang terdiri dari 70 judul yang berisi serpihan renungan tentang hidup, cinta, dan kesendirian. Prosa yang ditulis berdasarkan kegelisahan hidup yang dirasakan dan dialami Sang Penulis membuat pesan yang disampaikan tepat sasaran ke hati tiap-tiap yang membacanya.

Buku yang tepat untuk dijadikan teman duduk bagi siapa yang merasakan kesepian dalam keramaian, membuat pembaca merasa dinasihati tanpa kesan digurui. Dengan bahasa yang ringan namun pemilihan kata yang tepat, buku ini selalu nyaman dibaca oleh berbagai kalangan.

Mengenai tata letak bukunya, semua judul prosa di buku ini dimulai dari halaman bagian tengah dan mengosongkan bagian atas. Ini kurang nyaman di mata pembaca. Sebab, bagian atas halaman terlihat terbuang sia-sia. Namun terlepas dari semua itu, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Sebuah buku yang cukup ringan dengan bobot tulisan yang luar biasa sangat direkomendasikan bagi kamu yang butuh teman duduk 😊.  

Undangan Menjadi Tamu Allah

Awal sebelum datang ke Mesir, cita-cita untuk bisa pergi ke tanah haram rasanya lebih dekat akan tercapai. Entah bagaimana pun nanti caranya, keyakinan itu ada. Di tahun pertamaku di Mesir, dorongan untuk menabung uang dalam bentuk dolar seperti lancar tanpa halangan. Sebenarnya, uang kiriman tiap bulan yang dikirim orang tua di Indonesia ya gak gede-gede amat, tapi cukup untuk kebutuhan selama sebulan di perantauan.

Sebelum berangkat, aku sengaja dibuatkan ATM dan diisi uang tabungan di dalamnya. Tiap kali dikirim uang bulanan, aku selalu lebih banyak mengambil uang itu dalam pecahan dolar, dan sisanya pound. Tapi sebenarnya uang pound yang aku terima sering kali kurang jika aku lebih banyak mengambil dalam pecahan dolar, dan tidak jarang aku ambil uang tabungan dari ATM jika hal seperti ini terjadi. Prinsipnya, sing penting aku bisa nabung tiap bulannya.

Bulan demi bulan terlewati, hingga tibalah tahun keduaku di Mesir. Makin ke sini semakin sedikit nominal uang dolar yang bisa aku tabung, rasanya seperti kurang motivasi menabung lagi. Tapi berapa pun nominalnya, menabung perbulan itu harus. Haruus.

Di bulan Jumadil Akhir, ada pamflet yang dipasang di status-status Masisir (Mahasiswa/i Indonesia di Mesir) secara berbarengan. Setelah kulihat, “haah umroh bareng Syekh ‘Ala dan Syekh Abdussalam”. Siapa juga yang tidak mau jika diberi kesempatan umroh bareng Syekh, guru mulia kami. Diberi kesempatan bisa ziarah Haramain saja rasanya bersyukuuur sekali, apalagi bisa ziarah haramain pada bulan haram bersama orang-orang yang dicintai Allah.

Setelah melihat pamflet itu, rasanya lidah tak berhenti berdoa, begitu juga hati, ia tak berhenti berharap. Mungkin ini bukan hanya terjadi pada aku saja, harapan ini sepertinya hinggap di tiap-tiap orang yang mendambanya. Tapi, saat itu aku berharap, juga tahu diri, informasi ini terlalu dekat dengan waktu keberangkatan umroh. Dari bulan Jumadil Akhir ke bulan Rajab hanya hitungan kurang dari sebulan, rasanya kelabakan untuk memenuhi tabungan yang kurang, juga kebutuhan hidup selama umroh nanti. Juga aku belum punya visa tinggal Mesir saat itu. Tapi harapan tetap harapan, di saat seperti apapun kamu ditempatkan, harapanlah yang tak boleh padam.

Setiap selesai shalat, berdoa. Setelah melakukan amalan baik, berdoa. Saat di perjalanan, berdoa. Setelah baca Quran, berdoa. Setiap melihat orang soleh pun berdoa. Mudah-mudahan dengan wasilah-wasilah tersebut, menjadikan sebab terpanggilnya kami menjadi tamu Allah di tanah haram-Nya.

Semakin dekat dengan bulan Rajab, deg-degan dalam hati semakin terasa, seperti tak ada harapan untuk bisa jadi tamu-Nya bersama Syekh pada kesempatan ini. Tapi berdoa tentu tak boleh berhenti sampai di sini.

Tiba di bulan Rajab, ternyata ada halangan yang menyebabkan umroh ini diundur ke bulan Sya’ban. Sampai di akhir bulan Sya’ban, belum ada informasi mengenai kejelasan umroh. Hingga tiba masa ujian akhir tahun di bulan Ramadhan, maka otomatis agenda umroh ini pun terundur hingga bulan Syawal.

Di pertengahan masa ujian akhir tahun, kabar umroh bersama Syekh kembali diinformasikan. Bahwasannya umroh ini akan diselenggarakan di bulan Syawal, setelah selesainya ujian akhir tahun. Sungguh bahagianya kami, pun yang belum memiliki visa Mesir boleh mendaftar sebagai calon jamaah umroh bersama Syekh, dengan prosedur khusus tentunya.

Akhirnya, penantian ini terjawab. Mungkin ini sebagian dari terijabahnya doa untuk bisa jadi tamu-Nya bersama Syekh di kesempatan kali ini. Juga doa-doa jamaah lainnya. Dengan ini, aku putuskan untuk mendaftar. Bismillah.

Setelah lamanya penantian yang diombang-ambing harapan dan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, akhirnya Allah ridhoi permohonan tulus kami. Permintaan yang kami balut dalam doa dan shalawat, tentu bukan hanya datang dari pihak diri sendiri. Banyak orang-orang di belakang layar yang juga bantu mendoakan, doa orang tua banyak berperan tentunya.

Di samping doa yang kita ucap dari lisan kita sendiri, sering-seringlah meminta agar didoakan oleh orang lain. Sebab, kita tak pernah tahu dari lisan siapa doa itu paling cepat diijabah. Tapi, selain minta agar didoakan, rajin-rajinlah mendoakan orang lain. Sebab, pantulan doa baik untuk orang lain lebih cepat kembali kepada ia yang mendoakan.

Saat kita punya keinginan, cobalah tulis goals apa yang harus diraih lebih awal. Tapi hal seperti ini, simpan baik-baik olehmu sendiri. Ini privasi. Seperti yang tertera pada potongan bait mahfudzat “وإن أردت نجاحا أو بلوغ منى، فاكتم أمورك عن حاف ومنتعل”, (jika kamu ingin sampai pada suatu cita-cita atau kesuksesan, maka sembunyikanlah hal-hal yang akan kamu lakukan dari siapa pun). Ini benar aku rasakan, jika belum percaya, cobalah sendiri.

Selain punya goals yang jelas, kekuatan shalawat juga berpengaruh. Shalawat merupakan salah satu ibadah yang tak akan tertolak, insyaAllah. Maka saat berdoa, biasakanlah dimulai dengan shalawat, mudah-mudahan apa yang kita ucap sebagai doa dengan mudahnya terijabah dengan wasilah shalawat. Wallahu a’lam bis sowaab.

Cintai Dirimu Tanpa Syarat

Sejak memutuskan untuk melanjutkan studi di Mesir, aku merasa seperti dituntut untuk berubah. Awalnya aku menganggap takdir ini anugerah, namun ternyata ia juga merupakan bagian dari ujian. Minggu demi minggu kujalani hingga bosan. Saat puncak ketidaknyamanan itu tiba, diriku berontak. Aku merenung, rasanya hidup bukan melulu harus serius, harus ada canda tawa di dalamnya.

Beberapa bulan pertama yang kulewati di negeri orang ini ternyata terlalu tegang, terlalu khawatir dengan apa yang belum terjadi, terlalu memperhitungkan langkah apa yang harus dicapai dalam waktu cepat, namun belum tepat, hingga lupa rasanya menikmati proses itu sendiri. Mungkin saat itu aku benar-benar mengalami overthinking. Bersyukur, aku tak terlewat keras dengan diriku sendiri. Mencintai diri sendiri tanpa syarat-lah kuncinya.

(Sumber: Kompasiana.com)

Bumi Kinanah, merupakan nama lain dari negara Mesir yang saat ini aku singgahi. Bumi para Nabi ini banyak mengajarkanku arti hidup, dan tanpa bosan memberikan ujiannya sekaligus. Aku, anak perempuan polos ini dituntut untuk bisa bertahan hidup di tengah kerasnya watak orang Arab, dituntut sabar dengan segala keadaan, dipaksa mahir nyebrang jalan raya di tengah barbar-nya sikap pengemudi pribumi. Meski begitu, mereka juga-lah yang mengajarkanku arti cinta Tuhan dan Rasul yang sesungguhnya. Guruku pernah berkata, jika kamu ingin belajar mencintai Rasul dan keluarganya, maka belajarlah dari orang Mesir, cintanya tulus tanpa mengharap balasan apapun di dunia, namun mereka yakin cintanya takkan bertepuk sebelah tangan di akhirat kelak.

Mencintai Sesama

Sejak kecil, para orang tua pasti mengajarkan keteladanan untuk anaknya se-dini mungkin. Mencintai orang tua, guru di sekolah, teman sebaya, hingga tetangga. Namun sebelum itu, anak-anak justru harus dikenalkan dengan ‘cinta pada dirinya sendiri’.

Aku yang saat itu berusia empat tahun, ingat sekali rasanya jempol kaki-ku jadi incaran gigit oleh bibiku. Saat duduk-duduk santai di ruang televisi, ibuku sering melihat tanganku sambil meraihnya, lalu bilang ‘jari-jari buntet kayak gini enak kalau sudah tua nanti, tetap kencang dan gak keriput’. Mendengar itu, aku iya-iya saja sembari bersyukur dalam hati ala anak-anak, meski tak sepenuhnya yakin apa memang benar begitu atau tidak. Semakin dewasa, aku sadar ternyata ukuran jari tanganku memang lebih berisi dari temanku pada umumnya. Tapi tak apa-apa, ibuku jauh lebih dulu memberitahuku, dan aku bersyukur. Aku spesial.

Kemampuan Menilai

Setiap orang pasti memiliki kemampuan untuk menilai segala hal yang ia lihat, berkomentar dengan apa yang ia pahami, angkat suara atas apa yang ia dengar. Banyak dari kita justru asal berbicara tanpa berpikir, tak sadar dirinya menyakiti perasaan orang yang ia komentari, tak mau tahu apa yang orang lain rasakan, juga tak terlintas perasaan jika ia dikomentari dengan kata-kata pedas yang serupa. Singkat kata, hal tersebut dikenal dengan istilah bullying.

(Sumber: Wartabromo.com)

Fisik manusia, merupakan objek paling laku di pasar komentar. Melihat yang berkulit putih, mereka bilang itu cantik. Saat terlalu putih, justru dibilang pucat seperti mayat. Mereka bilang, kulit eksotis itu enak dipandang, namun jika terlalu hitam dengan mudahnya dibilang ‘kamu jelek’.

Pernahkah kita berpikir bahwa perbedaan adalah karunia. Bukankah sangat membosankan jika kita menemukan semua  manusia berkulit sama, tinggi yang rata, rambut pun seragam. Kita kerap kali dibuat gerah oleh oknum body-shaming, dibuat tak bebas berekspresi, dibuat tertekan dengan definisi kecantikan yang didikte orang lain.

(Sumber: Media Indonesia)

Seni Mencintai Diri Sendiri

Cintai dirimu atas apa yang kamu miliki, cintai dirimu sebagaimana kamu ingin dicintai orang lain, berperilaku lembutlah dengan diri sendiri, jadilah suporter pertama untukmu sendiri, cintailah dirimu tanpa syarat. Mencintai diri sendiri tanpa syarat menunjukkan bahwa kamu bersyukur dengan apa yang kamu punya. Ia juga diartikan sebagai cinta tanpa logika. Saat kau dapati dirimu justru tak sesuai dengan apa yang kamu mau, kamu memakluminya tanpa kecewa atau marah.

Terlepas dari itu semua, kita memang tidak bisa mencegah apa yang orang lain lakukan, tapi kita bisa mengontrol respon yang kita berikan. Hidup tak selalu sesuai dengan apa yang kita mau, tapi kita bisa legowo dengan ketetapan yang Tuhan berikan. Sebagai wujud mencintai diri sendiri tanpa syarat, aku menerapkan hal-hal sederhana yang mungkin bisa kalian coba, mari kuberitahu:

  1. Kerjakan apa yang membuatmu bahagia.

Hatimu pasti tahu apa yang membuatmu bahagia dan apa yang tidak membuatmu bahagia, luangkanlah waktu, jangan biarkan dirimu merana. Jika menurut seorang introvert bertemu banyak orang di keseharian adalah hal yang melelahkan, maka isilah kegiatan akhir pekanmu dengan ‘me time’. Sebaliknya, seorang ekstrovert mungkin akan mengisi akhir pekannya dengan hangout bersama teman-teman. Singkat kata, dengarkanlah hatimu dan lakukan apa yang membuatmu bahagia

2. Tahu apa yang dicari dalam hidup dan berkomitmen untuk mencapainya.

Dengan mengetahui target apa yang akan kamu raih dan tetap fokus pada apa yang kamu tuju, kamu akan dengan mudah berkomitmen untuk mencapainya. Namun, fokus pada tujuan pun ada seninya, kamu bisa baca artikel melatih fokus dari Satu Persen.

3. Bicara baik-baik pada diri sendiri.

Saat kamu merasa dunia tidak adil, coba ajak dirimu bicara. Dirimu perlu didengarkan, perlu dihargai, juga perlu dicintai. Kamu bisa memberi sugesti-sugesti baik pada diri sendiri, sebab ucapan yang baik akan direspons baik pula oleh tubuh.

4. Jangan sering membandingkan dirimu dengan orang lain.

Kamu harus bahagia dengan apa yang kamu lihat di cermin, sebab membandingkan dirimu dengan orang lain takkan membuatmu lebih baik. Tak hanya fisik, pencapaian yang kamu dapatkan dengan usahamu pun berhak kamu apresiasi. Sebab, jangan sampai kita mengukur kesuksesan kita dengan penggaris orang lain.

5. Bersyukur.

Dengan memahami kelebihan dan kelemahan diri, menerima segala yang kita punya, juga sadar akan pentingnya mencintai diri sendiri, kita akan mencapai derajat kearifan. Sebab menerima dan memaksimalkan daya yang kita punya merupakan bentuk syukur pada Tuhan, yang dengan bersyukur nikmat kita sebagai manusia akan terus bertambah.

Kalau kamu sudah mempraktikkan lima hal sederhana ini tapi masih merasa kesulitan untuk bisa mencintai diri sendiri sepenuhnya, jangan khawatir! Satu Persen hadir untuk mengatasi kesulitanmu untuk mencintai diri sendiri. Bersama mentor-mentor yang terlatih, kamu bisa menceritakan kesulitan yang kamu alami, kamu juga bisa ikut mentoringnya Satu Persen.

Semoga dengan membaca artikel ini kamu bisa terus berkembang lebih baik, ‘seenggaknya Satu Persen setiap harinya’.

#SatuPersenBlogCompetition #CintaiDirimu #TanpaSyarat

Nusaibah binti Ka’ab

​Nusaibah binti Ka’ab merupakan wanita yang berasal dari Bani Najar, Khazrah. Ia merupakan salah satu pemula dari kaum Anshor yang beriman dan mengucapkan baiat, yang mana Rasulullah SAW membaiatnya pada baiat Aqabah Kubro yang terdiri dari 74 laki-laki dan dua perempuan, yaitu Nusaibah binti Ka’ab (Ummu ‘Imaroh) dan Asma binti Amru (Ummu Manii’).

Ketika kaum muslimin keluar untuk menemui musuhnya, Ummu Imaroh adalah salah satu wanita yang ikut bersama pasukan lainnya. Dengan kantung tas air yang terbuat dari kulit domba, Ummu ‘Imaroh mengelilingi kaum muslimin yang kehausan untuk memberikan minum, bersamanya juga perban yang telah ia gantungkan di tengah, dengan itu ia balut luka-luka para tentara muslim. Ummu ‘Imaroh juga ikut memantau peperangan, ia melihat kemenangan kaum muslimin, hal itu membuat hatinya senang dan dadanya lapang. Akan tetapi hal yang membuatnya senang berlalu begitu cepat, keadaan berbalik menjadi kekalahan, setelah pasukan panah dari kaum muslimin mengingkari perintah Rasulullah SAW, mereka meninggalkan tempat mereka yang menjadi strategi perang saat itu, lalu terjadilah kekacauan di jajaran kaum muslimin, banyak dari mereka berlari dari sekitar Rasulullah SAW dan hanya tersisa 10 laki-laki yang melindungi di sekitarnya. Melihat hal ini, Ummu ‘Imaroh bergegas menghampiri Rasulullah SAW dan ikut mengawasinya. Rasulullah SAW memalingkan wajahnya pada pasukan muslimin yang berlari, lalu memerintahkan mereka untuk memberikan senjatanya pada orang-orang yang masih terus berperang. Dengan segera Ummu ‘Imaroh mengambil perisai dan membunuh siapa yang mencoba mendekat ke arah Rasulullah SAW. Pada waktu yang genting ini, tersisa bersama Ummu ‘Imaroh kedua anak dan suaminya. Keluarga Ummu ‘Imaroh sangat menepati janji pada baiatnya, di saat banyaknya pasukan justru berlari dari sekitar Rasulullah SAW. Yang mana mereka merupakan sosok yang dikenal pemberani dan pakar dalam medan perang, namun saat itu adalah waktu di mana kaki-kaki bergetar, jantung berasa sudah sampai di kerongkongan, maka yang tersisa saat itu hanyalah 10 orang laki-laki dan Ummu ‘Imaroh.

Perang semakin menjadi-jadi, para sahabat spontan membuat lingkaran yang mengelilingi Rasulullah SAW. Mereka menyayatkan pedang, melempar tombak, dan memanahkan busur panahnya tanpa sedikitpun merasakan  lemas di tangan, juga tanpa mengedipkan mata mereka mengikuti gerak-gerik musuh yang ingin membunuh Rasulullah SAW. Saat itu, Ummu ‘Imaroh merupakan orang yang sangat melindungi Rasulullah SAW dengan melawan musuh menggunakan pedang dan busur panahnya. Anak Ummu ‘Imaroh, Abdullah bin Zaid terluka di tangan kirinya, namun ia tidak memedulikannya dan tetap ikut berperang. Melihat darah mengalir dari lukanya, Rasulullah SAW berkata “balut lukamu wahai Abdullah”. Mendengar hal itu, Ummu ‘Imaroh segera menghampiri anaknya, membalut lukanya, lalu berkata “bangkit dan berperanglah anakku”, maka bangkitlah ia.

Rasulullah SAW sangat takjub dengan sikap Ummu ‘Imaroh, lalu berkata kepadanya “tidak ada orang lain sepertimu wahai Ummu ‘Imaroh”. Kemudian dihadapkanlah Rasulullah SAW dengan orang yang melukai anak Ummu ‘Imaroh, seraya berkata “ini adalah orang yang melukai anakmu wahai Ummu ‘Imaroh”. Bergegas Ummu Imaroh datang menghampirinya, memukul betisnya, dan terjatuhlah ia. Lalu kaum muslimin lainnya ikut menolong dengan membunuhnya bersama-sama. Rasulullah SAW senyum dan berkata pada Ummu ‘Imaroh “kau telah men-qishosnya wahai Ummu ‘Imaroh”.

Ibnu Qumaiah bergegas menuju Rasulullah SAW dan berkata “tunjukkan aku pada Muhammad! Di mana Muhammad?! Tidaklah berhasil bagiku jika dia (Muhammad) berhasil”. Lalu dia menghampiri Ummu ‘Imaroh dan menyayatnya dengan pedang pada bahunya. Ummu ‘Imaroh amat terluka, darahnya mengalir deras. Melihat kejadian itu, Rasulullah SAW memanggil anaknya seraya berkata “wahai anak Ummu ‘Imaroh, ibumu.. ibumu, balut lukanya, semoga Allah SWT memberkati kalian”.

Ummu ‘Imaroh menoleh ke arah Rasulullah SAW, lalu berkata “wahai Rasulullah SAW, doakan kami agar menemanimu di surga”. Rasulullah pun berdoa “ya Allah jadikanlah mereka teman-temanku di surga”.

Perjalanan jihad Ummu ‘Imaroh bersama Rasulullah SAW tak berhenti di sini, dia melengkapinya dengan turut serta keluar ke medan perang bersama wanita muslimah serta tentara lainnya. Memberi minum bagi tentara yang kehausan, mengobati luka, menghitung barang-barang tentara, serta langsung ikut serta turun ke medan perang jika hal itu diperlukan, seperti yang terjadi pada perang Uhud. Ummu ‘Imaroh juga hadir bersama Rasulullah SAW pada perang Hudaibiyah, Khoibar, Umroh Qodiyah, Hunain, dan Baiat Ridwan.

Ketika telah jelas munculnya Musailamah al-Kazzab di Yamamah yang mengaku sebagai nabi, Rasulullah SAW mengirim utusannya, Habib bin Zaid anak Ummu ‘Imaroh untuk mengirimkan surat. Musailamah al-Kazzab bertanya kepada Habib, “apa kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, Habib menjawab “tidak”. Musailamah bertanya lagi, “apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad utusan Allah?”, Habib menjawab “ya, saya bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SAW”. Ketika itu Musailamah langsung mengikat kedua tangan dan kaki Habib, mengambil dan memotong bagian tubuhnya sepotong-sepotong, seraya bertanya “apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”, dengan lantang Habib menjawab “tidak, namun aku bersaksi bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah SAW”. Musailamah pun semakin mengazabnya karena sikapnya yang kokoh seperti gunung.

Kabar mengenai anaknya pun sampai kepada Ummu ‘Imaroh. Dengan lapang dia mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rooji’unn dan hasbunallah wa ni’mal wakiil, lalu bersumpah akan membalas apa yang dilakukan terhadap anaknya. Bergulirlah waktu, dan Habib telah berpindah ke rahmatullah.

Sebagian warga Arab memurtadkan diri mereka dan mengagungkan Musailamah. Mengetahui hal ini, Abu Bakar segera menyiapkan tentara muslim untuk memerangi kaum murtad. Dengan segera Ummu ‘Imaroh ikut serta memerangi Musailamah al-Kazzab. Berlangsunglah perang dan Ummu ‘Imaroh ikut serta bersama kaum muslimin dalam perang. Bersama pedangnya ia menyayat para musuh Allah SAW. Ummu ‘Imaroh terluka, namun tidak memedulikan lukanya, karena sesungguhnya ingatan tentang perlakuan Musailamah kepada anaknya Habib selalu teringat dalam ingatannya.

Allah SWT menurunkan pertolongannya pada kaum mukmin, dan menjadikan musuh-musuh Allah kalah. Lalu beberapa kaum muslimin bergegas menghampiri Musailamah karena ingin mendapatkan kemuliaan sebab membunuh Musailamah dan selamatnya kaum muslimin dari kejahatannya. Dengan bergegas Wahsyi menuju arah Musailamah dan mencelanya, lalu Abdullah bin Zaid menusukkan pedangnya, kemudian semua kaum muslimin juga ingin menggoreskan pedang mereka pada Musailamah. Yang mana ia adalah orang yang menyebabkan terjadinya pertumpahan darah dan menyiarkan kekafiran antara manusia. Lalu sampailah Ummu ‘Imaroh, keadaan Musailamah telah menjadi potongan-potongan yang hancur. Dengan ini Allah SWT telah melapangkan dada Ummu ‘Imaroh, dan menyejukkan matanya dengan buruknya kematian Musailamah.

Kaum muslimin tentu memerhatikan pejuang wanita yang satu ini, yang mana tangannya telah terpotong dan lukanya  mengalami pendarahan, namun ia tetap tegar. Di sini, banyak orang teringat perkataan Rasulullah SAW “tidak ada orang lain sepertimu wahai Ummu ‘Imaroh”. Maka dengan segera kaum muslimin membalut luka Ummu ‘Imaroh dan merawatnya. Lalu tentara yang menang kembali ke Madinah, dan Abu Bakar menemui tentara ini dengan senang dengan kemenangannya, menanyakan tentang Ummu ‘Imaroh, menjenguknya, dan merawatnya.

Ketika Umar bin Khatab menjabat sebagai khalifah, beliau sangat memberikan pelayanan khusus kepada Ummu ‘Imaroh. Suatu hari sayidina Umar ditanya atas pelayanannya yang berlebihan pada Ummu ‘Imaroh, beliaupun menjawab, aku mendengar Rasulullah SAW berkata: “Aku tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri pada perang Uhud, kecuali yang kulihat Ummu ‘Imaroh berperang tanpaku”. Maka apakah hal ini tidak pantas sedangkan ia merupakan seorang dari orang-orang di belakang Rasulullah SAW yang memberikan pelayanan terbaiknya.

​Mengenal Mesir Lebih Dalam

Negeri para nabi yang mempunyai nama resmi Republik Arab Mesir adalah negara yang sebagian wilayahnya berada di benua Afrika. Dengan total luas wilayah 1.010.407 KM², Mesir terletak antara garis lintang 22° dan 32° N, dan garis bujur 25° dan 35° E. Kawasannya berbatasan dengan Libya di sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza di utara, dan Israel di timur. Negara ber-ibu kota Kairo ini terbagi menjadi 27 provinsi, yang meliputi; Mathruh, al-Iskandariyah, al-Buhairah, Kafr asy-Syaikh, ad-Daqahliyah, Dumyath, Bur Said, Syamal Sina, al-Gharbiyah, al-Minufiyah, al-Qalyubiah, asy-Syarqiyah, al-Ismailiyah, al-Jizah, al-Fayyum, al-Qahirah, as-Suwais, Janub Sina, Bani Suwaif, al-Minya, al-Wadi al-Jadid, Asyuth, al-Bahr al-Ahmar, Suhaj, Qina, al-Uqsur, dan Aswan. 

Belahan bumi yang dijuluki “Negeri Kinanah” ini merupakan negara ke-30 terbesar di dunia dengan jumlah penduduk terbanyak di negara Arab, berjumlah 94.164.800 jiwa. 90% penduduk Mesir menganut agama Islam dan 10% lainnya menganut agama Kristen. Segala ketentuan dan aturan tentang ketatanegaraan harus sesuai dengan hukum Islam, yang mana negara ini menganut madzhab Hanafi. Di Mesir, Muslim dan Kristen hidup bertetangga, berbagi sejarah, identitas nasional, suku bangsa, ras, budaya, dan bahasa umum. Mesir memiliki dua lembaga keagamaan besar, yaitu Masjid Al-Azhar yang didirikan pada 970 M oleh kekhalifahan Fatimiyah, dan Gereja Ortodoks Koptik Alexandria yang didirikan pada pertengahan abad ke-10 oleh Santo Markus. Uniknya, Kairo dikenal dengan berbagai macam menara masjid, sehingga dijuluki “Kota 1000 Menara”.

Sebagai salah satu negara paling maju di benua Afrika, perekonomian di Mesir sangat bergantung pada hasil alam, seperti pertanian, ekspor minyak bumi, dan ekspor gas alam. Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Mesir. Sebagai negara agraris, negeri ini sangat bergantung pada sungai Nil yang merupakan sumber kehidupan di Mesir. Hasil pertanian yang utama adalah kapas, gandum, jagung, padi, gula, susu, kurma, dan minyak zaitun. Arab Saudi adalah importir utama produk pertanian dan makanan dari Mesir, lalu diikuti oleh Rusia, Inggris, Irak, Uni Emirat Arab, Belanda, Kuwait, Italia, Jerman, dan Aljazair. Ada juga hasil industri menengah, seperti semen, pupuk, goni, aluminium, dan produk kapas. Selain dari hasil alam, negeri ini juga mendapat pemasukan dari pariwisata. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Mesir tiap tahunnya dapat mencapai dua juta wisatawan dari mancanegara.

Penduduk Mesir memiliki tradisi yang unik dan beragam, dari sapaan sehari-hari yang sering terlontar walaupun hanya ber-mujamalah (basa-basi) dengan orang yang ditemui, mengucap salam saat bertemu atau masuk kendaraan umum, berbicara dengan nada tinggi seperti layaknya orang bertengkar pun menjadi hal lumrah. Namun, orang Mesir mempunyai kebiasaan baik yang rasanya tidak ditemukan di Indonesia, seperti saat hendak turun dari kendaraan umum, masyarakat Mesir terbiasa mengucapkan “ala ganbi law samah”, yang mana kalimat tersebut memiliki makna sangat sopan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “permisi dong, ke pinggir”. Berbeda dengan ucapan yang selalu masyarakat Indonesia ucapkan di tanah air ketika hendak turun dari kendaraan umum, “kiri, kiri!”.

Saat tiba bulan Ramadhan, Mesir memiliki tradisi tersendiri dalam menjalankan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Bulan yang agung ini menjadi lahan bagi umat islam berlomba-lomba dalam kebaikan. Banyak dari masyarakat Mesir yang menyajikan “Maidatur Rahman”, yaitu istilah yang berarti “Jamuan Tuhan yang Maha Penyayang”, dinamakan demikian karena jamuan ini disediakan bagi hamba-hamba Allah untuk berbuka puasa setelah menjalankan perintah-Nya. Maidatur Rahman banyak disajikan di banyak instansi, masjid, maupun sepanjang jalan.

Berbicara tentang penduduknya, Mesir sangat mengarahkan warga laki-laki yang berusia 18-49 tahun untuk meneruskan studinya pada ke-militeran. Hal ini diperkuat oleh potongan hadits yang berbunyi ” إِنَّكُمْ سَتَكُوْنُوْنَ أَجْنَادًا وَ إِنَّ خَيْرَ أَجْنَادِكُمْ أَهْلُ الْغَرْبِ”, dari potongan hadits tersebut dapat dipahami bahwa sesungguhnya kalian akan menjadi tentara-tentara, dan sebaik-baiknya tentara adalah ahlul gorbhi (penduduk Mesir). Dalam potongan hadits lain, Imam Hakim meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul “Al-Mustadrak  Alaa As-Shahihain” yang berbunyi ” أَسْلَمُ النَّاسِ فِيْهَا الْجُنْدُ الْغَرْبِيُّ “, yang dimaksud dengan aslamun naasi fiihaa adalah sebaik-baik manusia saat itu, dan al-jundu al-ghorby sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Hakim ini bermakna tentara Mesir. Tentara merupakan tolak ukur hebat atau tidaknya militer suatu negara. Mesir mempunyai empat angkatan bersenjata, yaitu angkatan darat, angkatan udara, angkatan laut, dan komando pertahanan udara. Angkatan bersenjata Mesir merupakan angkatan bersenjata terbesar di benua Afrika, dengan jumlah personal aktif sekitar 470 ribu tentara. 

Negara pertama yang mengakui Kedaulatan Indonesia pada 17 Agustus 1945 ini memiliki bentuk pemerintahan republik dan kekuasaannya diatur dengan sistem Semipresidensial Multipartai, yaitu sistem pemerintahan yang menggabungkan kedua sistem pemerintahan, yaitu presidensial dan parlemen. Berdasarkan teori, kekuasaan eksekutif dibagi antara presiden dan perdana menteri, namun pada praktiknya kekuasaan terpusat pada presiden. Mesir meraih kemerdekaannya pada tahun 1922, namun tetap di bawah kedudukan Inggris, yang mana sebelumnya menjadi jajahan Perancis pada tahun 1798 — 1801.

Sebelum sistem pemerintahan Mesir berubah menjadi republik, negara ini menganut sistem kerajaan, yaitu pada masa Mesir Kuno. Mesir Kuno adalah salah satu negara tertua di dunia yang berusia lebih dari 5000 tahun. Kekuasaan tertinggi Mesir Kuno berada di tangan raja. Rakyat Mesir Kuno percaya bahwa raja adalah turunan dewa sehingga dianggap sangat suci, mereka menyebut Per-O (artinya “Istana Agung”), awalnya kata ini merupakan istilah untuk istana kerajaan, namun lama-lama artinya menjadi untuk penghuni istana tersebut atau bisa disebut sebagai ganti nama raja. Dari istilah itu, muncul sebutan “Pharao” atau “Firaun” untuk raja Mesir Kuno. Pada struktur pemerintahan, terdapat jabatan tertinggi di bawah raja yang disebut “Vassal (Raja Bawahan)”. Selain itu, Vassal juga membawahi sejumlah pegawai, juru tulis, dan duta.

Kerajaan Mesir Kuno dibagi menjadi 3 era, yaitu kerajaan Mesir Tua (3100 — 2134 SM), kerajaan Mesir Pertengahan (2040 — 1640 SM), dan kerajaan Mesir Baru (1552 — 1069 SM). Setelah era kerajaan Mesir Baru, kerajaan Mesir Kuno mengalami keruntuhan dan dikuasai oleh suku Romawi (The Great Alexander), Arab, dan Turki (kesultanan Utsmaniyah). Adapun peninggalan dari kerajaan Mesir Kuno, berupa Piramida, Sphinx, Obelisk, dan kuil-kuil.

Sekian informasi tentang pengenalan negara Mesir secara mendalam yang dapat kami ulik kali ini, yaitu negeri dengan julukan Kinanah yang mempunyai arti sarung yang dipakai untuk menyarungi anak panah. Maksudnya, negeri yang dijaga oleh Allah dan kinanah bukan hanya ditujukan kepada Mesir, tetapi Syam (Palestina dan Mesir).